Mereka akhirnya tiba di depan kamar Ling Mei. Lynx menoleh pada Guru Yuan dan berkata dengan nada tenang namun tegas, "Guru Yuan, aku membutuhkan privasi untuk menggunakan teknik pengobatanku. Aku tidak bisa membiarkan siapa pun melihatnya. Namun, jika kau merasa perlu seseorang untuk mengawasi, biarkan Li Wei tinggal bersamaku. Aku percaya padanya."

Guru Yuan tampak ragu, tapi setelah melihat ekspresi serius Lynx dan Li Wei yang mengangguk meyakinkan, akhirnya ia menghela napas pelan. "Baiklah. Aku akan menunggu di luar. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu, aku tidak akan tinggal diam."

Lynx hanya tersenyum tipis. "Aku mengerti."

Saat pintu tertutup, ruangan itu menjadi hening, hanya diterangi oleh lentera spiritual yang memancarkan cahaya lembut berwarna kebiruan. Aroma obat-obatan herbal masih samar-samar tercium di udara.

Ling Mei berbaring di atas dipan, wajah cantiknya terlihat tenang dan napasnya teratur. Namun tubuhnya tampak masih lemah seperti tidak ada aura kehidupan, efek racun yang melukai jiwanya membuat energi spiritual ditubuhnya terasa menghilang.

Lynx mendekat, duduk di tepi dipan. Tatapannya melembut saat melihat wajah gadis itu dalam keheningan. Perlahan, ia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang hangat menyibak helaian rambut Ling Mei yang berjatuhan di wajahnya. Gerakannya lembut, seakan takut membangunkannya.

"…Kau pasti sangat menderita," gumamnya lirih.

Li Wei, yang berdiri di dekatnya, memperhatikan gerakan Lynx dengan tatapan penuh arti.

Lala, yang berdiri bersandar di dinding, hanya mendengus pelan. "Hmph… Kau begitu lembut padanya. Jarang sekali aku melihatmu seperti ini, Xiao Ling."

Lynx tidak menjawab, matanya tetap terfokus pada Ling Mei. Di dalam ruangan sunyi itu, keheningan terasa seperti sebuah beban yang belum terpecahkan…

Lala, yang berdiri di belakang, menyilangkan tangan di depan dadanya. Matanya menatap lurus pada Lynx sebelum menghela napas pelan. "Jangan lupa, Xiao Ling… Dia Ling Mei, bukan Leena."

Suasana dalam ruangan seketika menjadi lebih berat.

Lynx terdiam, matanya menerawang sesaat, seolah kata-kata Lala menusuk sesuatu di dalam hatinya. Bayangan masa lalu melintas di benaknya, begitu cepat namun cukup untuk meninggalkan jejak yang mendalam. Namun, dia tidak membantah. Hanya sebuah anggukan pelan yang ia berikan—hambar, nyaris tak terlihat, tapi penuh makna.

Mengabaikan suasana yang menegang, Lynx mengalirkan qi spiritualnya ke cincin penyimpanan dan mengeluarkan Rumput Jiwa Seribu Tahun yang diberikan oleh Tuan Zhen. Tanaman langka itu bersinar redup dalam genggamannya, memancarkan energi kehidupan yang begitu kuat hingga udara di sekelilingnya terasa lebih segar. Cahaya kehijauan berpendar samar di permukaannya, menari seiring aliran energi spiritual yang meresap ke udara.

Li Wei menatap rumput itu dengan ekspresi terkejut. "Itu... Rumput Jiwa Seribu Tahun? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tidak mungkin kau akan memberikannya langsung padanya, kan? Selain itu, perlu alkemis tingkat tinggi untuk memurnikannya…"

Lynx hanya melirik sekilas sebelum menjawab singkat, "Percayakan padaku."

Tanpa membuang waktu, dia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Sesaat kemudian, ketika ia kembali membukanya, pupilnya berpendar redup—bukan dengan cahaya biasa, tetapi sesuatu yang lebih dalam, lebih misterius, seolah-olah menyimpan lautan rahasia yang tak terjamah.

Dengan satu gerakan tangan, nyala api tiba-tiba muncul di telapak tangannya. Bukan api biasa, melainkan api qi berwarna hitam kebiruan, menyala tanpa suara, begitu sunyi namun tampak seolah membakar ruang itu sendiri. Udara di sekeliling mereka bergetar, seakan takut pada keberadaan api tersebut. Lynx menggabungkan qi spiritual dengan energi saktinya untuk memurnikan tanaman spiritual tersebut.

Li Wei tersentak, matanya membelalak tak percaya. "Itu… bukan api alkimia biasa…" bisiknya.

Lala, yang belum pernah melihat proses seorang alkemis menciptakan pil secara langsung, hanya bisa diam terpaku. Tatapannya penuh keterkejutan sekaligus kekaguman.

Lynx tetap diam, fokus sepenuhnya pada rumput spiritual di tangannya. Dengan satu gerakan halus, dia mengangkat rumput itu ke udara dan membiarkannya melayang di tengah pusaran api qi miliknya. Rumput itu mulai meleleh perlahan, melepaskan esensinya yang paling murni, berubah menjadi tetesan energi berkilauan yang menari di udara.

Dia menggerakkan jarinya, menciptakan formasi kecil di udara, setiap garis bercahaya yang terbentuk tampak seperti jalur bintang yang saling terhubung. Butiran-butiran esensi bercahaya mulai berkumpul, tersusun dalam pola energi yang rumit, berputar seperti galaksi mini di antara jari-jarinya.

"Kompresi… Pemurnian… Fusi…"

Tiga tahapan yang biasanya membutuhkan tungku alkimia dan waktu berjam-jam, kini ia lakukan dalam hitungan menit—dengan tangan kosong. Setiap gerakan Lynx begitu presisi, seakan telah menguasai teknik ini selama ribuan tahun.

Hingga akhirnya, di telapak tangannya, terbentuk sebuah pil mungil berwarna keemasan, bersinar lembut dengan pola bercahaya samar yang tampak seperti ukiran formasi kuno di permukaannya. Aroma obat spiritual yang begitu pekat memenuhi ruangan, membuat udara terasa lebih berat, namun juga lebih murni.

Lynx menghembuskan napas panjang, lalu membuka matanya kembali. "Selesai."

Lala masih menatapnya dengan ekspresi sulit dipercaya. "Itu… Kau melakukannya terlalu cepat… Bahkan tanpa tungku alkimia… Dan apimu itu…"

Lynx hanya tersenyum samar, matanya berkilat dingin. "Aku tidak ingin membuang waktu."

Dengan hati-hati, Lynx membantu Ling Mei menelan pil itu. Begitu pil memasuki tubuhnya, energi spiritual yang kuat langsung menyebar melalui meridiannya. Cahaya keemasan samar masih berpendar di kulitnya saat pil mulai bekerja, menyebarkan energi murni ke seluruh tubuhnya.

Seketika, rona wajahnya mulai berubah. Saat racun dan luka ditubuhnya diobati Lynx sebelumnya, rona wajah Ling Mei yang pucat menjadi lebih segar dan berseri. Napasnya yang semula agak lemah kini mulai stabil. Dan dengan meminum pil yang baru dimurnikan tersebut, tubuhnya semakin bereaksi, mereka bisa merasakan energi spiritual mulai memancar dari tubuh Ling Mei dan rona wajahnya menjadi semakin terlihat segar.

Lynx bisa merasakan bagaimana qi di dalam tubuh Ling Mei mulai berputar kembali, mengalir dengan lebih lancar.

Setelah beberapa saat, dia menarik tangannya, memperhatikan wajah gadis itu yang sudah jauh lebih baik.

Lala, yang bersandar di dekat pintu, menyeringai. "Aku harus mengakui, itu cukup mengesankan. Sepertinya pengobatanmu benar-benar berhasil. Dia akan baik-baik saja."

Lynx mengangguk, tapi dalam hatinya, dia masih dipenuhi tanda tanya.

Tetua Xie menghilang. Ketua Sekte Api Langit terbunuh. Ada seseorang yang kemungkinan menyamar menggunakan pakaian mirip dirinya...

Sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di balik layar.

Guru Yuan yang berjaga di luar merasa tidak sabar, dia juga mencium aroma obat yang baru dibuat namun dia tidak merasakan fluktuasi energi yang biasa muncul saat seseorang membuat obat. Setelah menajamkan pendengaran dan mendengar pengobatan berhasil, guru Yuan mengetuk pintu dan masuk.

Didalam kamar terlihat Lynx dan Lala sedang berdiri, sementara Li Wei duduk disamping Ling Mei yang terlihat sedang tertidur dengan nyenyak. Guru Yuan menatap sekitar, dia masih bisa mencium aroma obat spiritual tingkat tinggi yang baru dibuat. Tubuhnya terasa lebih segar saat mencium aromanya, namun dia tidak melihat ada orang lain ataupun jejak bekas pembuatan pil. Karena biasanya akan ada sedikit jejak bekas pijakan tungku saat seorang alchemist membuatnya.

"Bagaimana kondisi Ling Mei?" tanya guru Yuan sambil memperhatikan Li Wei yang terlihat sedang memandangi Lynx seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan.

"Ling Mei sudah membaik. Kita tinggal menanti dia sadar." jawab Lynx dengan yakin.

Tiba-tiba saja Li Wei yang sebelumnya menatap tajam ke arah Lynx bertanya. "Xiao Ling, tadi kalian menyebut tentang Leena. Siapa Leena?" tanyanya dengan suara dingin.

Lala, yang berdiri di samping Lynx, menghela napas panjang. "Leena adalah istrinya Xiao Ling..." katanya pelan.

"Istrinya Xiao Ling? Bukankah istrinya bernama Yun Qing, namun mereka mengatakan hubungan mereka hanyalah sandiwara?"Li Wei berkata dengan penasaran. Jantungnya berdebar lebih kencang.

"Jadi kamu tahu juga tentang Yun Qing? Dia bukanlah istrinya Xiao Ling, tetapi seorang wanita bernama Leena. Dia istrinya yang sedang dicari hingga saat ini. Dan kebetulan wajahnya mirip dengan Ling Mei." Lala berkata dengan santai, dia tidak ingin saingannya bertambah dengan adanya sosok seperti Ling Mei ataupun Li Wei. Sebagai sesama wanita, Lala dapat merasakan adanya perasaan khusus Li Wei terhadap Lynx yang terpancar dari caranya berbicara dan memandang.

Lynx yang mendengarnya merasa bingung bagaimana cara meresponnya. Dia tidak mungkin mengelak karena memang itu kenyataannya, tetapi dia juga tidak bisa melapaskan tanggung jawabnya kepada Ling Mei. Kehormatan Ling Mei sudah di renggutnya, dia harus memperlakukannya dengan baik dan nantinya harus menjelaskan ke Leena.

Mata Li Wei melebar, lalu ia menoleh ke arah Ling Mei yang masih terbaring. Wajahnya menegang, tangannya terkepal. "Jadi karena wajah mereka mirip, kau mendekati Kak Ling Mei?" katanya, suaranya bergetar antara marah dan terluka.

Lynx terdiam, tak bisa langsung menjawab.

Li Wei melangkah maju, menatapnya dengan penuh emosi. "Jangan dekati Kak Ling Mei lagi! Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya hanya karena kau melihat bayangan istrimu dalam dirinya!"

Lynx menunduk, merasa bersalah.

Lala ikut mendengus kesal. "Ternyata kamu memang mendekati Ling Mei juga Lynx? Aku tahu kau merindukan Leena, tapi aku tak menyangka kamu akan mendekati wanita lain yang menyerupainya. Ling Mei bukan Leena!  Aku harap kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan."

Lynx semakin salah tingkah, tapi sebelum ia bisa menjawab, tubuh Ling Mei mulai bergerak pelan.

Lynx segera mendekat, ingin membantunya, tapi Li Wei dengan cepat menghalangi. "Jangan sentuh dia! Aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkannya, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi!"

Guru Yuan yang tidak memahami kejadian yang terjadi hanya terdiam menyaksikan perdebatan anak muda di depannya."Kisah cinta anak muda memang sangat rumit. Sepertinya pemuda ini juga bukan tipe pria yang cukup dengan satu wanita. Dia masih berusaha mendekati wanita lain meski sudah memiliki istri."

Lala menyentuh bahu Lynx. "Sudahlah, Lynx. Ling Mei butuh istirahat. Ayo kita pergi dulu."

Namun, Lynx tetap berdiri di tempatnya, tatapannya penuh penyesalan. Dengan suara rendah, ia berkata, "Maafkan aku, Ling Mei... Aku akan bertanggung jawab atas semua yang telah kulakukan padamu saat kita di dunia kecil di Kota Huoling."

Li Wei menegang, matanya penuh kebingungan dan kemarahan. Lala juga tampak terkejut dengan kata-kata itu, seolah menebak ada sesuatu yang lebih dalam antara mereka.

Ling Mei, yang kini mulai siuman, hanya menatap mereka dalam diam.

Lynx menarik napas panjang, lalu berbalik hendak pergi. Namun, saat ia baru memutar tubuhnya…

"Sayangku..."

